Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
gilesward4:   Followers: 0 ; Following: 0


Pemahaman Aqiqah Merujuk Agama Islam



Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: mengabung. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang secara penyembelihan itu. Ada yang mengatakan jika aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada juga yang menyebarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang ada pada oknum si bayi ketika ia keluar atas rahim permulaan, rambut itu disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk budak yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 kontrol untuk bayi laki-laki dan 1 sudut untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak balita tergadaikan beserta aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi identitas dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan budak perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, dipastikan sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib atas ayahnya, daripada kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi jadi hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang serupa dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, sira memberi seri dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak surah 4, sesuatu. 264]

Tanggapan: Hasan dan Husain ialah cucu Nabi SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Lembut, dia berkata: Rasulullah berfirman: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada sosok miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih di dalam hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Menyandarkan Aqiqah Budak adalah sunnah (muakkad) pantas pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama cakap fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai zat yang sunnah muakkadah merupakan hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai secara aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan guyur darinya tahi kotok (Maksudnya potong rambut rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun meski bersifat tetap, karena terdapat sabdanya yang memalingkan dari kewajiban yaitu: “Barangsiapa di antara kalian terdapat yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Duli Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan dalil yang menggerakkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Sultan berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh dalam aqiqah itu hewan yang picak, mersik, patah rangka, dan pedih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam satwa aqiqah berikut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami dalam masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kibas dan melumangkan kepalanya dengan darah wedus itu. Maka setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, memotong (menggundul) kepala si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud bab 3, hal. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila meronce ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka menconteng kapas secara darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si momongan mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah kebiasaan itu secara minyak wangi”.[HR. Putra Hibban beserta tartib Ibnu Balban juz 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah pendapat kesepakatan para ulama merupakan hari ketujuh dari kelahiran. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW berkata, “Seorang bujang terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak pula, maka dalam hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) untuk dasar permintaan, maka sekiranya menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah semua. Karena prinsip ajaran Islam adalah mempermudah bukan merunyamkan sebagaimana petuah Allah SWT: “Allah mengorek kemudahan bagimu dan gak menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini menurut sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi seri. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan sambil At Tirmidzi)

Dan jika tidak siap melaksanakannya pada hari ketujuh, maka dapat dilaksanakan di dalam hari di empat belas, dan apabila tidak sanggup, maka pada hari ke dua puluh satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh, ke 4 belas, dan ke dua puluh satu. ” (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga ahad masih tidak mampu oleh karena itu kapan sekadar pelaksanaannya dalam kala sudah biasa mampu, karena pelaksanaan dalam hari-hari di tujuh, ke empat belas kasihan dan di dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. Dan boleh juga melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Budak yang menyisih dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, terutama meskipun bocah yang kelulusan dengan ukuran sudah berusia empat tarikh di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si balita. Namun jika seseorang yang belum pada sembelihkan satwa aqiqah per orang tuanya hingga ia besar, jadi dia sanggup menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh karena itu hal itu tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, dipastikan pada hari keempat belas kasihan. Dan jika bukan bisa pun, maka dalam hari kedua puluh satu. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Namun demikian, bila ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia dapat melakukan aqiqah sendiri pada saat mendalam. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah begitu besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyambut, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi begitu kecil, jadi lebih baik melakukannya seorang diri saat kuat. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Dari segi mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang-orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Jumlah Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal merupakan satu upaya baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putra Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan & Husain wahid domba satu domba. ” (Hadits shahih riwayat Debu Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kalian harus tegak bahwa Lembut dan Husain adalah budak kembar. Maka pada tunggal kelahiran tersebut disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 termuda untuk budak perempuan bertolak pada hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengarahkan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor kambing dan mulai anak dara satu upaya. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor kambing yang seimbang dan dari anak dara satu upaya. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang bani

1. Disunnatkan untuk meluluskan nama & mencukur serabut (menggundul) di hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir di dalam hari Unik, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

dua. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor wedus sedang bagi anak perempuan 1 sudut.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan menurut orang tua si anak, namun demikian boleh pun dilakukan per keluarga yang lain (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Indah Mentah Ataupun Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan di dalam kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kambing untuk bani dan satu ekor wedus untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah dikasih kepada tetangga dan sengsara miskin pula bisa dikasih kepada sosok non-muslim. Makin jika hal itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya dan dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah tutur Allah, “Mereka memberi mencopet orang nista, anak yatim, dan tahanan, dengan sanubari senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada tatkala itu ialah orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga pun boleh membuang sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa menelaah apakah lelaki atau betina, sebagaimana riwayat di lembah ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia sempat bertanya menurut Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu kontrol kambing. Gak menyusahkanmu baik kambing ini jantan sekalipun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum meraih dalil lainnya yang menyibakkan adanya binatang selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Waktu yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasarkan dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 semenjak kelahiran budak tersebut. [Lihat pendapat riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Akan halnya dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat & tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada umat islam, dan boleh mengundang teman-teman dan nenek untuk menyantapnya, atau mampu juga dia mensedekahkan seluruhnya. Syaikh Pelerai demam Bazz berkata: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya & memasaknya lantas mengundang manusia yang engkau lihat gesit diundang daripada kalangan macam, tetangga, sohib2 seiman dan sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, dan hal sebagai dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi jika ada hubungan antara pengertian sebuah pamor dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan beserta adanya sejumlah nash syari yang memproklamasikan hal ini.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Tuhan mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang terkandung dalam pamor berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna tersebut diambil darinya dan seumpama nama-nama itu diambil mulai makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui akibat nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang terhadap Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib berkata: “Orang itu senantiasa bergaya keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang bagus untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang indah yang cukup diberikan adalah nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana ceramah beliau: Dari Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik pendapat ajaran Agama islam, silahkan fraksi:

Memberi Sebutan Bayi / Anak Dengan Islami


Membabat Rambut

Menyikat rambut adalah anjuran Rasul yang super baik untuk dilaksanakan ketika anak yang baru mengembol pada hari ketujuh.

Di hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpukau dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menerangkan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Laksmi dan Husein lalu sira menyedekahkan argentum seberat sabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan dengan rata; gak boleh cuma mencukur sekitar kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar juga sedekahnya.

Seruan Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Artinya: Dengan seri Allah, akur Allah terimalah (kurban) mulai Muhammad & keluarga Muhammad serta mulai ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk bujang ini beserta kalimat Sang pencipta Yang Baik dari seluruh gangguan syaitan dan huru-hara binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat memapah akibat melorot bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari sisi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs punya beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA tatkala Sang pencipta SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Pada aqiqah itu mengandung point perlindungan daripada syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir itu, dan ini sesuai secara makna hadits, yang berarti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Oleh karena itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih selamat dari gelaran syaithan yang sering mengocok anak-anak. http://dapoeraqiqah.com/aqiqah-murah-bandung/ Sesuatu inilah yang dimaksud sambil Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sama aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan kerangka taqarrub (pendekatan diri) lawan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud mencicip syukur buat karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya sang anak.

5. Aqiqah guna sarana membuka rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang hendak memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan sedang banyak sedang hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Post by gilesward4 (2017-01-19 20:49)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2017 - postbit.com